Wanita Buddhis yang Menginspirasi

Dipa Ma


Ketika ibu, suami, dan dua anaknya meninggal, dan kemudian dokter memvonisnya bisa meninggal sewaktu-waktu karena penyakit yang dideritanya, Dipa Ma terguncang hebat, penderitaan yang mendalam ini melumpuhkannya secara emosional. Meditasi kesadaran (Vipassana) perlahan-lahan membantunya bangkit melalui pemahaman akan tidak kekalnya kehidupan.
Melalui meditasi, Dipa Ma mengatasi tragedi kehidupan. Ia kemudian menjadi sosok yang berpengaruh dalam Buddhisme masa ini sebagai seorang guru serta sebagai teladan bagi umat awam yang berusaha mencapai pencerahan sembari mengemban tanggung jawab perumah tangga.


Dipa Ma

Masa-Masa Sulit


Nama lengkap Dipa Ma adalah Nani Bala Barua, namun orang-orang lebih sering memanggilnya Dipa Ma (Ibunya Dipa), karena ia memiliki seorang putri yang bernama Dipa. Nani dilahirkan pada tahun 1911 di sebuah desa kecil di Chittagong, Bangladesh, dan dibesarkan dalam keluarga Buddhist yang taat. Namun, pada saat itu praktik meditasi sudah hampir punah di wilayah itu dan hanya menyisakan praktik ritual dan upacara saja.
Sejak kecil, Nani telah menunjukkan minat yang besar dalam ritual dan ajaran Buddhis. Ia lebih menyukai belajar Dhamma dibandingkan menghabiskan waktu bermain-main.
Nani sangat mendambakan belajar di sekolah, namun ia dinikahkan pada usia 12 tahun, dan tak lama kemudian, ia dan suaminya pindah ke Yangon, Burma. Beberapa tahun kemudian, ibu Nani meninggal, kemudian ketika Nani melahirkan anak pertamanya, seorang putri, bayi itu jatuh sakit, lalu meninggal pada usia 3 bulan. Empat tahun kemudian, pada tahun 1950, Nani melahirkan Dipa, dan sejak itu dipanggil Dipa Ma. Kemudian Nani melahirkan seorang putra, namun bayi itu meninggal ketika dilahirkan. Pada tahun 1957 suaminya meninggal secara tiba-tiba akibat jatuh sakit serta kesedihan yang mendalam. Kehilangan yang memilukan akan orang-orang yang dicintai, melumpuhkan dan mengguncang Nani secara emosional. Yang memperparah keadaan, Nani juga terdiagnosis menderita tekanan darah tinggi, sampai pada tahap di mana dokter memperkirakan ia bisa meninggal sewaktu-waktu.


Dipa Ma

Meditasi Vipassana


Seorang dokter kemudian menyarankan Dipa Ma untuk belajar bermeditasi. Ia mengikuti retret meditasi pertamanya di Pusat Meditasi Kamayut di Rangoon. Tidak lama kemudian, ia mengikuti retret keduanya, di pusat meditasi Thathana Yeiktha, di mana Mahasi Sayadaw mengajar. Menyadari kematian bisa datang sewaktu-waktu, Dipa Ma memutuskan untuk tinggal berlatih di pusat meditasi tersebut. Meskipun ia tidak tahu banyak tentang meditasi, Dipa Ma mulai berlatih dengan tekun. Ia mempelajari meditasi kesadaran dan kemudian mampu memahami ajaran Buddha tentang ketidakkekalan. Secara bertahap, rasa takutnya akan kematian mereda dan secara ajaib, kesehatannya membaik.
Dipa Ma mulai berlatih di rumah dan juga berlatih dengan Anagarika Munindra. Munindraji mendorongnya untuk sering-sering berlatih dengan Mahasi Sayadaw. Setelah belajar di bawah bimbingan Mahasi Sayadaw, Dipa Ma merasa benar-benar ada perubahan dalam dirinya. Ia tidak lagi merasakan kesedihan yang telah membelenggu dirinya begitu lama. Melalui tahapan-tahapan dalam meditasi pandangan terang, Dipa Ma memperoleh pemahaman yang mencerahkan.


Dipa Ma

Mulai Mengajar


Pada tahun 1967, Dipa Ma kembali ke India, menetap di Kalkuta dan mulai mengajar meditasi. Murid pertamanya adalah tetangganya, Malati Barua, seorang janda yang harus membesarkan enam anak sendirian. Meyakini bahwa pencerahan dapat dicapai dalam lingkungan apa pun, Dipa Ma menyusun latihan-latihan yang dapat dipraktikkan oleh murid barunya di rumah. Ini adalah awal dari karir panjang Dipa Ma dalam mengajar para umat awam, terutama kaum wanita.
Ia dengan sepenuh hati mengabdikan dirinya untuk membantu para praktisi spiritual lainnya mengalami tingkat pemahaman yang mendalam. Meskipun tidak banyak dikenal di luar lingkungannya, Dipa Ma tetap mempertahankan gaya pengajaran tradisional namun selalu siap sedia membantu mereka yang ingin memperoleh bimbingan meditasi. Dipa Ma adalah teladan yang luar biasa bagi umat-umat awam pada zamani ini yang berkomitmen untuk berlatih meditasi.
Dipa Ma juga mempengaruhi gerakan wanita dalam Buddhisme, berkat apa yang mungkin merupakan satu-satunya perbedaan pendapat antara dirinya dan gurunya, Anagarika Munindra. Suatu ketika, Munindraji sedang mengajar beberapa murid perempuan Dipa Ma mengenai kelahiran kembali dan ia menyatakan bahwa seorang perempuan harus terlahir sebagai laki-laki untuk menjadi seorang Buddha, tiba-tiba Dipa Ma berseru,"Saya dapat melakukan apa saja yang dapat dilakukan oleh seorang laki-laki!"
Pada tahun 1970-an, Dipa Ma mengajar Sylvia Boorstein, Joseph Goldstein, Jack Kornfield, Michelle Levey, dan Sharon Salzberg, yang di kemudian hari menjadi guru-guru berpengaruh di Amerika Serikat. Pada awal tahun 1980-an, Dipa Ma pergi ke Amerika Serikat untuk mengajar di Insight Meditation Society di Barre, Massachusetts.
Dipa Ma meninggal pada usia 78 tahun, pada tahun 1989 di Kolkata, India, sambil bersujud di depan patung Buddha.


Wawancara


Tanya: Anda berasal dari keluarga Buddhis. Apakah Anda memulai latihan meditasi sejak dini?Dipa Ma:Ketika saya masih kecil, latihan meditasi bukanlah sesuatu yang umum. Ada satu atau dua orang dari generasi yang lebih tua yang mempraktikkan meditasi, tetapi itu benar-benar dilakukan secara tertutup, tidak seperti sekarang ini. Mereka tidak membicarakan apa yang mereka lakukan. Baru setelah saya menikah, praktik meditasi menjadi populer. Saya menjadi sangat tertarik dan ingin mempelajarinya, namun suami saya berkata, "Kita pasangan yang masih muda. Mengapa kita tidak mempelajarinya nanti saja ketika kita sudah sedikit lebih tua?" Pada masa itu, pandangan yang berlaku adalah latihan spiritual bukanlah untuk orang muda, melainkan untuk orang tua, yang telah menyelesaikan tugas-tugasnya dalam mengurus keluarga dan pekerjaan. Jadi, saya menuruti saran suami saya.Tanya: Bagaimana Anda akhirnya mulai berlatih?Dipa Ma: Karena penderitaan dan keputusasaan. Setelah menunggu selama dua puluh tahun, anak pertama saya, perempuan, meninggal tiga bulan setelah dilahirkan. Setelah menunggu empat tahun lagi, Dipa lahir. Tahun berikutnya, anak laki-laki saya meninggal saat dilahirkan. Saya tidak pernah melihatnya. Saya meratapi kematian kedua anak saya selama bertahun-tahun. Ketika saya merasa mulai menemukan kedamaian, saya didiagnosa menderita tekanan darah tinggi dan hipertensi, yang berdampak serius pada jantung saya. Kondisi jantung saya memburuk sampai-sampai nyawa saya terancam. Akhirnya kondisi itu mencapai tahap di mana dokter memperkirakan saya akan meninggal sewaktu-waktu. Tepat pada saat itu, suami saya, yang biasanya sehat, pulang kerja dalam keadaan sakit dan demam pada suatu sore. Meskipun dokter telah berusaha keras, ia meninggal secara mendadak pada hari itu juga. Itu sangat mengejutkan, sama sekali tidak terduga. Saya telah begitu menderita, lalu mendapat pukulan seperti ini. Hanya Dipa yang tersisa. Dia baru berusia lima tahun. Ketika saya menyadari bahwa saya sedang sekarat, saya tahu bahwa saya harus mulai berlatih. Saya bertanya pada diri sendiri, "Apa yang bisa saya bawa ketika saya mati?" Saya melihat sekeliling pada semua barang yang saya miliki dan menyadari bahwa saya tidak dapat membawanya. Saya memandang putri saya dan menyadari bahwa sebesar apa pun saya mencintainya, saya tidak bisa membawanya. Jadi saya berpikir, " Saya akan pergi ke pusat meditasi. Mungkin saya dapat menemukan sesuatu di sana yang dapat saya bawa ketika saya mati." Saya memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tinggal di pusat meditasi - saya bisa mati di sana atau di rumah, sama saja. Saya memberitahu teman-teman saya tentang keputusan saya, meskipun saya hampir tidak tahu apa-apa tentang meditasi. Mereka sangat mendukung. Saya memiliki satu sifat sejak kecil: ketika saya sudah berjanji, saya selalu menepatinya. Sebelum pergi, saya memberikan semua harta benda dan uang saya kepada tetangga dan memintanya untuk merawat Dipa, saya mengira saya tidak akan pernah kembali lagi. "Ambil apa pun yang saya miliki dan tolong jaga Dipa," saya memohon. Hati saya hancur dan putus asa.


Dikutip dari Wawancara dengan Dipa Ma.


"Apa pun yang Anda lakukan, sadari. Ini adalah keseluruhan jalan kesadaran."


Semuanya Tidak Kekal


"Ketika putra saya meninggal pada tahun 1984, Dipa Ma mengejutkan saya dengan nasihatnya yang tajam. Sebuah pelajaran sulit yang tidak pernah saya lupakan: 'Hari ini, anakmu telah pergi dari dunia ini. Mengapa engkau begitu terkejut? Segala sesuatu tidak kekal. Hidupmu tidak kekal. Suamimu tidak kekal. Putramu tidak kekal. Putrimu tidak kekal. Uangmu tidak kekal. Rumahmu tidak kekal. Segala sesuatunya tidak kekal. Tidak ada satu pun yang permanen. Ketika engkau masih hidup, engkau mungkin berpikir, 'Ini adalah putri saya, ini adalah suami saya, ini adalah harta benda saya, ini adalah rumah saya, mobil ini milik saya. Tetapi ketika engkau mati, tidak ada satu pun milikmu. Sudipti, kau pikir dirimu adalah seorang meditator yang serius, tetapi kau harus sungguh-sungguh belajar bahwa segala sesuatu tidaklah kekal.'"Sudipti Barua
 

Keyakinan


Sebuah kisah yang disampaikan oleh Dipa Ma"Di negara-negara Buddhis, umat Buddha menjalankan delapan sila (moralitas) empat hari dalam sebulan, dan mereka pergi ke vihara pada bulan purnama. Pada suatu hari di bulan purnama, saya dan seorang teman wanita memutuskan untuk pergi ke vihara. Ketika kami meninggalkan rumah, hujan turun rintik-rintik, tetapi ketika kami sudah berada di dalam bus, hujan mulai turun dengan deras. Ketika kami turun dari bus, hujan semakin deras dan jalan menuju vihara telah tertutup air. Ada beberapa orang menunggu kami di vihara, tetapi kami tidak bisa berjalan ke sana karena kami basah kuyup, kedinginan, dan menggigil. Saat itu sebuah mobil melintas dan berhenti di depan kami. Pria di dalamnya memberitahu kami ada sebuah rumah baru yang sangat bagus di dekat sana. Ia mengantarkan kami dengan mobilnya ke rumah itu. Tak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang ditata dengan apik dan memiliki gerbang di depannya. Kami masuk melewati gerbang itu dan menaiki tangga, di mana kami memutuskan untuk berteduh sampai hujan berhenti. Kami menunggu sekitar lima belas menit, kemudian bergegas ke vihara.
 
Begitu kami tiba, orang-orang berkata, "Oh, kalian basah kuyup! Bagaimana itu bisa terjadi?" Kami menceritakan kepada mereka ketika turun dari bus, hujan turun dengan deras dan jalanan tergenang air, kemudian kami menemukan sebuah rumah dan berteduh di sana. Kami menggambarkan rumah berlantai dua yang baru dibangun itu kepada mereka. Namun, penduduk setempat dan para bhikkhu vihara itu yang setiap hari berjalan berkeliling mengumpulkan dana makan di daerah itu, mengatakan, "Kami tidak pernah melihat ada rumah seperti itu di tempat yang Anda ceritakan." "Ya, begitulah, mungkin saja ada kesalahan," kata saya kepada mereka,"Tetapi kami tadi menunggu di sana selama lima belas sampai dua puluh menit, jadi, memang ada sebuah rumah di sana."
Ada sedikit perdebatan, dan akhirnya kami berkata,"Baiklah, kita lihat saja nanti." Kemudian kami mendengarkan ceramah Dhamma, setelah itu dalam perjalanan pulang kami mencoba mencari rumah itu. Kami kembali ke lokasi itu tetapi tidak dapat menemukan rumah itu lagi. Bagaimana mungkin, kami bertanya-tanya dengan heran, kami telah memasuki sebuah rumah yang sekarang sudah tidak ada lagi? Kami mencoba mencari di jalan lainnya, tetapi tetap saja kami tidak dapat menemukannya.


Keesokan harinya, Bhikkhu di vihara mengatakan bahwa ia telah mencoba mencari rumah yang kami ceritakan itu, tetapi ia juga tidak dapat menemukannya. Kami memutuskan untuk kembali ke sana dan mencarinya sekali lagi, namun tetap tidak berhasil. Terjadi diskusi panjang lebar mengenai kejadian ini. Kami akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa karena kami menjalankan sila (moralitas), mempraktikkan Dhamma, dan telah berdoa, "Semoga para dewa dan dewi melindungi kami dari segala macam bahaya," mereka telah datang membantu kami dan membuatkan tempat berteduh agar kami terhindar dari hujan. Inilah sebabnya mengapa saya selalu mengatakan pada Anda semua untuk selalu berusaha menjalankan sila. Karena pasti seseorang akan menolong dan melindungi Anda dari segala macam bahaya. Ini dari pengalaman saya sendiri. Waktu itu kami berdua, jadi saya tahu itu bukan hanya sekedar mimpi atau khayalan saya. Para dewa dan dewi benar-benar datang membantu kami.
 
Setelah Dipa Ma menceritakan kisah ini, seorang muridnya, Leslie Fowler, yang mendengar Dipa Ma menceritakan kisah ini secara langsung, mengenang reaksinya: "Saya menyukai wanita dalam bungkusan putih kecil itu [Dipa Ma] yang datang ke aula dan menceritakan kisah-kisah dari latihannya untuk menyemangati kami. Salah satu ceritanya adalah tentang sebuah rumah yang muncul secara ajaib di tengah hujan untuk menaunginya karena beliau adalah seorang pelayan Dhamma sejati. Ketika kami yang berada di aula meditasi tertawa, sedikit menggoda guru kami yang terkenal itu, beliau menatap kami, tidak memahami ketidakpercayaan kami seperti halnya kami tidak memahami keyakinannya.""Itu memang sungguh terjadi," katanya, dan kami pun terdiam."


Sumber: Dipa Ma - Menjaga Sila


Media


Buku:
Dipa Ma: Kehidupan dan Warisan Guru Buddhis Wanita
Penulis: Amy Schmidt
Penerbit: Ehipasiko
 
Artikel:
Berbagai artikel terkait Dipa Ma
 
Informasi (Bahasa Inggris):
Situs Dipa Ma
Wikipedia
 
Audio (Bahasa Inggris):
Dharma Talks at Insight Meditation Society
 
Video (Bahasa Inggris):
The Inspiration of Dipa Ma
 
Kumpulan Artikel Meditasi Kesadaran:
Tanya-jawab Vipassana dengan Sayadaw Silananda
Koleksi Mindfulness
Referensi


Halaman yang memuat informasi ringkas tentang Dipa Ma ini dibuat untuk memperkenalkan Dipa Ma pada peminat meditasi di tanah air, khususnya mereka yang tertarik akan meditasi kesadaran, atau meditasi Vipassana. Informasi dikutip dan diterjemahkan dari berbagai sumber.